tutup

Login Panel

Jika anda adalah salah satu user yang mempunyai akses terhadap web ini, maka silahkan masukkan user dan password anda.
Login Panel
YOOtheme
Click on the slide!

Stikper Gunung Sari

STIKPER Gunung Sari - MakassarMerupakan salah satu sekolah keperawatan di kota Makassar dengan jenjang pendidikan D3 dan S1 dalam bidang…

Click on the slide!

Sistem Belajar

Kami memiliki tenaga pengajar yang telah berpengalaman di bidangnya.Dan pelayanan akademis yang terus ditingkatkan untuk mempermudah bagi para pelajar dalam…

Click on the slide!

Sarana

Memiliki sarana perlengkapan yang menunjang seperti lab. bahasa, lab. komputer dan lain sebagainya

Click on the slide!

Asrama Pelajar

Kami menyediakan asrama untuk para pelajar yang menjalani pendidikan di Sekolah kami

Click on the slide!

Capping Day

STIKPER Gunung Sari akan menjadikan Anda seorang tenaga ahli di bidang keperawatan dengan keterampilan yang bisa bersaing

Frontpage Slideshow (version 2.0.0) - Copyright © 2006-2008 by JoomlaWorks

Editor Login

Jadwal Kegiatan

No current events.

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter

Your IP: 38.107.191.118
Image and video hosting by TinyPicSampai saat ini Indonesia yang berpenduduk lebih dari 200 juta jiwa baru memiliki 173 dokter spesialis bedah saraf, jumlah itu tersebar tidak merata di seluruh Indonesia. Idealnya, rasio ahli bedah saraf adalah 1:100.000, berarti diperlukan sekitar 2000 dokter.

Hal tersebut diungkapkan oleh Dr.dr.Renindra Ananda Aman, Sp.BS, sekretaris Perhimpunan Spesialis Bedah Saraf Indonesia dalam jumpa pers acara International Society for Pediatric Neurosurgery Teaching Course 2010 di Jakarta, Rabu (24/2).

"Bedah saraf merupakan kelompok studi sendiri dan bagian dari pendidikan yang berkelanjutan dari ahli bedah. Namun ilmu bedah saraf sendiri kurang dikenal, bahkan di kalangan dokter," tutur dr.Nanda. Dibandingkan dengan Jepang yang penduduknya 127 juta jiwa, di sana terdapat 6000 ahli bedah saraf.

Ia menambahkan, kurangnya informasi mengenai bidang studi bedah saraf membuat minat dokter untuk mendalami ilmu ini masih kurang. Apalagi masa studi ilmu bedah saraf cukup lama, yakni enam tahun. "Kalau mengambil spesialisasi yang lain tiga tahun sudah lulus," paparnya.

Selain kekurangan SDM, dr.Samsul Ashari, Ketua Departemen Bedah Saraf FKUI/RSCM mengatakan fasilitas bedah di rumah sakit daerah masih kurang. "Fasilitas CT Scan dan MRI hanya ada di kota-kota besar. Padahal, persiapan sebelum dan perawatan pasca operasi juga menentukan keberhasilan operasi, terlebih untuk pasien anak-anak," katanya.

Saat ini setiap tahun hanya dihasilkan 12 lulusan ahli bedah saraf di seluruh Indonesia. "Jumlah dokter yang melanjutkan spesialisasi bidang bedah saraf bisa dihitung dengan jari," tutur dr.Samsul. Tak heran bila ada 13 provinsi di Indonesia yang belum punya ahli bedah saraf.